hgh
Sep 28

Melalak ke Aek Sipitu Dai

Aek sipitu dai, atau air tujuh rasa atau dikenal orang-orang bule dengan sebutan seven taste water adalah tujuan berikutnya dari rutinitas melalak ku. Setelah baru saja beranjak dari desa wisata tomok dan kota wisata parapat.

Aek sipitu dai, terletak di daerah boho, Limbong (melewati kota pangururan). Jangan takut kesasar, setiap orang bahkan anak-anak setempat pun dapat menunjukkan secara pasti tempatnya. Aek sipitu dai adalah tujuh buah pancuran yang masing-masingnya memiliki rasa yang berbeda-beda. Air yang mengalir di pancuran ini berasal dari 7 buah mata air yang bergabung didalam satu tempat labuan (bak panjang) namun ketika dialirkan ke tujuh pancuran rasanya dapat kembali terpisah. Menurut seorang penjaga tempat ini, setiap orang yang mau masuk kedalamnya (untuk mencuci muka, mandi, ataupun meminum aek sipitu dai ini) haruslah memiliki hati yang bersih (jika tidak pastilah akan ada bala atau sakit penyakit bahkan kematian yang akan melanda). Seram juga rasaku ketika mau memasuki tempat ini. Dan menurut sang penjaga permintaan kita jika diminta dengan hati yang suci akan diberikan (sudah banyak yang memperolehnya tutur sang penjaga). Apa yang aku minta? hmm… aku kesana hanya untuk menghormati leluhurku/nenek moyang ku orang batak.

aek sipitu dai

aek sipitu dai

Beginilah rupa pintu masuk aek sipitu dai atau air tujuh rasa saat aku berkunjung di pertengahan september 2009 yang lalu. Pancuran yang terdapat didalamnya memiliki rupa seperti manusia yang memegang kendi atau bambu. Dari bambu atau kendi tersebut lah keluar air yang memiliki rasa-rasa berbeda tersebut.

Karena asyiknya menikmati suasana alam dan keramahan orang sekitar jadi lupa aku nanya apa arti ketujuh pancuran tersebut. Tapi pastinya semua itu ada arti dan sejarahnya, bagi yang tertarik silahkan datang saja ke areal aek sipitu dai yang terletak di boho, Limbong.

Oh iya mungkin ada yang bertanya-tanya apa emank memiliki rasa yang berbeda-beda? memang sepenilaian lidahku setiap pancuran mengeluarkan rasa yang berbeda-beda dan rasanya itu sangat berbeda dengan air biasa. Pertamanya sich aku merasa apa emank gara-gara di pancuran itu terbuat dari batu atau ada endapan di mata air itu yang membuat pancuran itu memiliki rasa yang berbeda-beda. Karena penasarannya akhirnya ku cobain juga air yang mengalir di pancuran yang ada di toilet (karena sepertinya berasal dari satu penampungan yang sama) ternyata rasanya berbeda, air yang berasal dari pancuran yang ada di toilet benar-benar seperti air biasa. Ya enaknya sich ngerasain langsung ke tempatnya, jamin g bakal nyesal lah. Lagipula tidak ada dikutip uang masuk atau apalah alias gratis tis tis tis.

Lokasi aek sipitu dai ini sekitar 1 – 1.5 jam perjalanan darat dari tomok. menuju arah kota pangururan. Jangan takut merasa bosan selama perjalanan, karena pastinya pemandangan indah menghampar di hadapan anda. Mau bukti? okeh aku kasih sedikit aja yach, sisanya temukan sendiri disana.

danau toba

danau toba

cem kaca!

cem kaca!

Masih kurang lagi? datang aja langsung deh karena pastinya kalau langsung pasti lebih indah.

B2 panggang

B2 panggang

Hmm…. katanya kalo melalak ga afdol kalo enggak makan-makan. Eits.. nih kukasih, ada kedai B2 panggang di daerah kota panguguran. Penampakannya ada di samping kanan.

Harganya Rp. 12.000/porsi, nasih tambah ga di hitung lagi (tapi mungkin kalo nambahnya satu rice cooker dihitung juga). Ini B2 panggang batak jadi pasti beda rasa dan cirinya dengan B2 panggang karo. Apa bedanya? nah kalo pertanyaannya gini, agak-agak ribet pasti menjelasinnya mendingan di cicipin aja langsung ke Tekape.

Tambo coi: Setelah ini kita akan melalak ke batu hobon dan rumah persaktian anak dari Siraja Batak, nyantai di permandian air panas pangururan, dan main pasir di pasir putih danau toba. Jadi tetap kunjungi melalak.com atau bisa di subscribe tuh diatas sebelah kanan.


Pelalak: ndro

3 Comments

wisata danau toba
September 28, 2009

ko ngga sempat2lah aku kesini ya.. :bingung:

btw.. dibandinginnya sama air toilet yang mana tuh.. :muntah:


begh, bukan air toilet, tapi air pancuran bukan “pancuran” yang ada di toilet disitu :bingung2:

[...] muluk berbicara untuk menyalahkan pemerintah atas keterpurukan kondisi pendidikan anak-anak di Tanah Batak. Salut buat orang-orang di Samosir, yang mau bergeliat – menyediakan buku buat anak-anak di daerah [...]

ki..

di bagian tambo coy..
bukan panguguran..tapi pangururan..

diserang warga pangururan kau baru tw rasa nanti..
hihih..

:sadis:

dah di edit partner, thank you atas koreksinya hehehe

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment

:b_pieps: :b_ojak: :okta: :b_nich: :kurcaciBesar: :dodon: :sumuk: :boonchiet: more »